Kamis, 21 Januari 2010

PERPUSTAKAAN MERUPAKAN DENYUT NADI PENDIDIKAN

Konsentrasi Islam dalam mewujudkan peradaban ilmu melalui tradisi buku sangatlah besar. Al qur’an sendiri turun sebagai wahyu dengan sebutan unik yaitu Al Kitab, dimana dalam Al Kita tersebut terdapat ayat yang pertama kali turun yaitu Iqra yang artinya “bacalah”. Dibawah support Rasulullah para sahabat begitu giat melakukan aktivitas penulisan dan pendokumentasian karena mangetahui betul betapa ilmu harus diikat dengan tulisan agar dapat di wariskan, dan dipelajari bagi generasi penerusnya. Kepedulian untuk berinteraksi dengan buku baik dalam bentuk penulisan, penyalinan, penerjemahan bahkan penelitian terus dikembangkan. Perpustakaan besar Islam yang pertama kali didirikan adalah Daarul Ulum atau Baitul Hikmah pada awal abad IX M oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Baitul Hikmah sendiri didesain sebagai perpustakaan sekaligus universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting.
Kehadiran Baitul Hikmah telah mendatangkan efek yang penting bagi kehidupan intelektual pada zaman itu, serta menjadi pusat referensi. Bahkan Raja Louis XI dari Perancis saat perjalanan Perang Salib mendapat ide mendirikan perpustakaan serupa bernama “Bibliotheque Nationale” setelah melihat perpustakaan-perpustakaan Islam di kawasan Laut Tengah. Sayangnya perpustakaan itu baru terwujud beberapa abad kemudian karena Eropa bukan pusat peradaban ilmu ketika itu.

Kondisi Pasang surut kejayaan kerajaan-kerajaan Islam memang sangat mempengaruhi kondisi perpustakaan yang ada. Meski tahun 1258 kota Baghdad (sebagai kota ilmu) diporak-porandakan oleh Mongol. Para sejarahwan mencatat kurang lebih 36 perpustakaan yang diiventarisir untuk di dirikan kembali. Perpustakaan Baitul Hikmah segera digantikan oleh kota-kota penting di Mesopotamia, Syria. Asia Tengah, Mesir dan Iran. Hal ini menunjukkan betapa ilmuan Islam menjadikan perpustakaan sebagai sentral peradaban yang benar-benar menjadi urat nadi perkembangan Islam.

Bentuk perpustakaan yang dikembangkan oleh ilmuan-ilmuan Islam juga tergolong baru. Penguasa kerajaan tidak membatasi siapa saja untuk berinteraksi dengan buku, baik dengan cara meminjam, menyalin, menterjemahkan, dan lain sebagainya. Bahkan anggaran Negara yang dikeluarkan untuk membiayai perpustakaan tersebut sangat besar. Tidak sama halnya dengan perpustakaan-perpustakaan yang berkembang sebelumnya, sepeti perpustakaan kuno di Alexandria yang didirikan oleh Ptolemaeus dimana perpustakaan dikembangkan hanya sebagai gudang buku, tidak ada transaksi peminjaman yang dapat diakses oleh siapa saja, pada zaman itu paradigma yang dikembangkan adalah mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya.

Pada zaman peradaban itu setiap kali ada kapal berlabuh, penguasa selalu memeriksa apakah kapal tersebut mengangkut manuskrip ataukah tidak. Bila ditemukan manuskrip, maka manuskrip tersebut dibawa keperpustakaan untuk disalin. Salinan buku diberikan kepada pemiliknya sementara teks asli menjadi milik penguasa. Peradaban Islam telah melahirkan perpustakaan-perpustakaan bermutu sepanjang sejarah. Aksesnya yang terbuka lebar untuk siapa saja mendorong perubahan dunia sedemikian cepat. Perpustakaan Baitul Hikmah di Bagdad memiliki koleksi buku sekitar 400 hingga 500 ribu buku. Perpustakaan khalifah dinasti Fatimiyah di Kairo jumlah seluruh buku yang ada mencapai 2.000.000 buku. Perpustakaan ini berisi berbagai macam ilmu antara lain Al-Qur’an, astronomi, tata bahasa, lexicography dan obat-obatan.

Pada Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo mempunyai 40 lemari yang tiap lemarinya bisa memuat sampai 18.000 buku. Selain itu, diperpustakaan ini juga disediakan segala yang diperlukan seperti tinta, pena, kertas dan tempat tinta. Perpustakaan Al-Hakam di Andalus dengan Jumlah buku didalamnya sebanyak 400.000 buku, Perpustakaan ini mempunyai katalog-katalog yang sangat teliti dan teratur mencapai 44 bagian, di perpustakaan ini terdapat pula para penyalin buku yang cakap dan penjilid-penjilid buku yang mahir. Perpustakaan Bani Ammar di Tripoli berisi buku-buku yang langka dan baru di zamannya, perpustakaan ini mempekerjakan orang-orang pandai dan pedagang-pedagang, untuk menjelajahi negeri-negeri guna mengumpulkan buku-buku yang berfaedah dari negeri-negeri yang jauh dan wilayah-wilayah asing. Jumlah koleksi bukunya mencapai 1.000.000, di perpustakaan tersebut terdapat 180 penyalin yang menyalin buku-buku, pada masa itu juga terdapat banyak perpustakaan pribadi. Para ulama zaman itu memiliki perpustakaan yang isinya mencapai ribuan buku.

Paradigma Perpustakaan; yang merupakan Jantung Pendidikan tidak banyak lembaga dan ormas yang berkembang di Indonesia ini menghargai betul arti perpustakaan. Apabila sebuah Lembaga, Badan atau Departemen yang tidak memiliki perpustakaan dapat dikatakan penghargaannya terhadap ilmu sangatlah lemah, jika demikian sumberdaya manusianyapun juga melemah yang artinya tidak ada ilmuan yang dilahirkan darinya, dimana ahlul ilmu senantiasa lahir dari hasil berinteraksi dengan gudang-gudang buku.

Di dunia pendidikan, ruang perpustakaan menjadi salah satu syarat perizinan. Akan tetapi tidak sedikit dari pelaku pendidikan yang kurang memperhatikan hal ini. Walhasil, mereka hanya menyediakan buku-buku sebagai syarat, bukan landasan pengembangan intelektualitas yang diperjuangkan. Maka mahasiswa yang dihasilkanpun hanya mencukupi syarat saja, bukan utama. Sebab perpustakaan adalah pusat buku, dan buku adalah modal mahasiswa untuk mengembangkan intelektualisnya, maka kedudukan perpustakaan di dunia pendidikan adalah wajib. Sebuah pendidikan akan berusaha keras mewujudkan perpustakaan yang representative jika memahami benar fungsi perpustakaan tersebut diadakan.

Secara umum perpustakaan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut.

1.Fungsi Edukatif yaitu perpustkaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum yang mampu membangkitkan minat baca, mengembangkan daya ekspresi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan gaya pikir yang kritis.

2.Fungsi Informatif dalam hal ini perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang memuat informasi tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang bermutu dan uptodate. Disusun secara teratur dan sistematis, sehingga dapat memudahkan para petugas dan pemakai dalam mencari informasi yang diperlukannya.

3.Fungsi Administratif, yang dimaksudkan dengan fungsi administratif ialah perpustakaan harus mengerjakan pencatatan, penyelesaian dan pemrosesan bahan-bahan pustaka serta menyelenggarakan sirkulasi yang praktis, efektif, dan efisien.

4.Fungsi Rekreatif, Yang dimaksudkan dengan fungsi rekreatif ialah perpustakaan disamping menyediakan buku-buku pengetahuan juga perlu menyediakan buku-buku yang bersifat rekreatif (hiburan) namun bermutu seperti cerita sejarah, novel, kumpulan cerpen, dan lain sebagainnya.

5.Fungsi Penelitian, Ini adalah fungsi sentral yang tidak bisa tidak menjadikan perpustkaan harus diwujudkan. Sebab referensi dalam sebuah penelitian merupakan harga mati. Sebelum tahun 2002 sistem online secara umum belum dikenal masyarakat, penyimpanan data hingga layanan perpustakaan masih menggunakan sistem manual, semuanya harus dicatat oleh petugas, Tentu, cara seperti itu sangat melelahkan dan tidak efektif. Seiring perkembangan tehnologi, perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi kini mengembangkan model perpustakaan digital dengan akses manuskrip-manuskrip yang lebih mudah dan efesien.

Arti penting sebuah perpustakaan tidak hanya sekedar wacana. Sangat tidak berlebihan jika perpustakaan sering disebut-sebut sebagai jantungnya pendidikan. Sebanyak apapun pelajar/mahasiswa belajar disebuah sekolah/ kampus, jika tidak dilengkapi dengan perangkat perpustakaan yang memadai hanya akan membuat lamban proses pembelajaran. Perpustakaan juga berfungsi untuk memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, serta sebagai sarana pendidikan sepanjang hayat khususnya melalui buku.

Di Amerika serikat, ketika Islam menjadi agama yang disorot dengan berbagai sudut pandang, perpustakaan menjadi salah satu solusi. Umat Islam dinegeri itu merasa perlu mengambil langkah-langkah untuk menutupi sudut pandang buruk dengan meluncurkan proyek perpustakaan, seperti yang dikatakan oleh Ibrahim Hooper dari Council for American-Islamic Relations atau CAIR. Perpustakaan ini adalah modal sekaligus energi tersendiri untuk membawa Islam kepada pemahaman yang utuh. Ide perpustakaan ini lahir untuk mengangkat martabat Islam di sebuah negeri minoritas. Bahkan disebuah negeri penjajah bernama Israel, perpustakaan mini menghiasi setiap sudut pos-pos jaga militer sembari membidik satu nyawa mujahid palestina. Masih adakah yang ingin menggusur perpustakaan?

Begitu besar perhatian Islam terhadap minat baca pada umatnya, sehingga tercetus untuk mendokumentasikan ilmu-ilmu yang didapat di tempat yang kita kenal sekarang yaitu Perpustakaan, dan menyebarluaskan ilmu-ilmu tersebut khususnya melalui buku. Berdasarkan itu pula BKKBN sebagai Badan Pemerintah merasakan betapa pentingnya Perpustakaan, Perpustakaan BKKBN adalah contoh perpustakaan yang dimiliki salah satu badan milik pemerintah, sama halnya dengan perpustakaan dalam dunia pendidikan, perpustakaan di BKKBN ini pun mengharapkan setiap karyawan/karyawatinya dapat menambah wawasan dan mendapatkan informasi terkini setiap harinya melalui media cetak atau dalam web perpustakaan maupun web portal yaitu bkkbn.go.id yang sudah disiapkan, sehingga dapat meningkatkan sumber daya manusia di lingkungan BKKBN baik di pusat maupun di provinsi tentunya.

Perpustakaan BKKBN khusus menyediakan koleksi bahan informasi bidang keluarga berencana, kependudukan dan keluarga sejahtera yang dilayankan untuk para pengelola dan pelaksana program serta pengguna lain yang memerlukan. Koleksi bahan informasi tersebut dapat diperoleh di Perpustakaan BKKBN Pusat dan Perpustakaan BKKBN Provinsi di seluruh Indonesia. Perpustakaan BKKBN Pusat telah mengoleksi lebih dari 23.000 judul buku atau 38.000 buku, dari jumlah judul tersebut sudah 8.579 judul buku dapat diakses melalui web perpustakaan BKKBN pada portal bkkbn.go.id. Selain itu tersedia pula koleksi majalah dalam dan luar negeri, koleksi ephemera, dan kliping koran. Informasi tersebut dapat diakses dengan memilih menu sebagai berikut:
Penelusuran koleksi, fasilitas yang membantu para pengunjung untuk mencari judul buku, nama pengarang, atau penerbit yang dibutuhkan; Informasi buku baru, informasi tentang buku-buku baru yang tersedia di Perpustakaan BKKBN yang dilengkapi dengan uraian singkat isi buku (abstrak); Artikel, menyajikan informasi berupa artikel bidang keluarga berencana, kependudukan, dan keluarga sejahtera yang disajikan oleh para ahli, praktisi dan pemerhati di bidang keluarga berencana; Download full text, tekstual buku tertentu, khususnya terbitan BKKBN yang dapat dilayankan kepada para pengguna yang membutuhkan. Program ini dalam waktu dekat akan dapat dimanfaatkan oleh para pengguna yang memerlukan.

Perpustakaan BKKBN sudah berbasis Teknologi Informasi dari tahun 2005 begitu pula di BKKBN provinsi-provinsi besar di Indonesia, tentunya diharapkan untuk provinsi-provinsi yang lain pun segera membuat perpustakaannya berbasis Teknologi Informasi, karena pada era globalisasi ini perkembangan teknologi sangat pesat dan sangat menolong memudahkan bagi yang membutuhkan informasi, dengan mengakses ke web perpustakaan akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar