Senin, 18 Januari 2010

Kisah Seru di Perpustakaan

Karya Pemenang Pertama Kisah Seru di Perpustakaan
Posted by Ida M on Mar 31, '09 11:05 PM for everyone

My Diary in the Library

Jakarta tak pernah terkantuk dan sejenak terhenti dari aktivitasnya. Itulah yang aku rasakan dari perjalanan hari-hari di kota besar ini. Hidup pun tak pernah mudah tuk sekedar mendapatkan kelayakan atau sedikit angin segar dari gersangnya bumi “Jayakarta”. Aku mahasiswi miskin yang tak pernah kompromi dengan keadaan dan harus selalu mengalah pada keras dan kasarnya wajah sang Kota Metropolitan.

Lulus kuliah di salah satu PT swasta, dengan perjuangan berat dan kucuran keringat, peluh, rasa lapar, bahkan air mata yang telah menjadi saripati hidup kunikmati dan coba kujalani dengan binar harapan akan hari depan yang lebih kuat. Sesosok gelap dan hitam yang bernama pengangguran hadir menyapa siap menghantui langkah para sarjana yang harus berperang dengan ijazahnya menembus dunia kerja tanpa pengalaman maupun orang dalam. Itulah saat sulit yang tanpa kusadari menjadi dilema tersendiri. Berijazah berarti harus bekerja. Pemerintah dengan berbagai kebijakannya ternyata menjadi tidak bijak dalam menyediakan lapangan kerja bagi para sarjana. Praktis banyak sarjana tak terlihat guna dan manfaat dari ilmu yang di raih dari bangku kuliah karena tak ada lagi ruang pekerjaan bagi mereka.

Aku, tak pernah berfikir untuk memasuki dunia diam dan tenang ini, dunia yang orang-orang tak banyak bicara, dan dunia orang-orang berkaca mata dengan sang teman yang bernama ”buku” atau dunia para mahasiswa kutu buku yang telah menyatu dengan nuansa sepi perpustakaan. Aku yang tak pernah sekalipun mengetahui tentang pekerjaan perpustakaan selain untuk meminjam atau mengembalikan buku. Tapi Allah rupanya ingin memperkenalkan dunia ini. Dunia indah dalam kesederhanananya, dunia ceria dalam ketenangannya, dan dunia ilmu dalam lembaran-lembaran wajah penghuninya yang tersimpan berbaris dalam rak-raknya. Meski dalam sejarahnya ia tak pernah menjadi primadona masyarakat ini yang hampir tak pernah mengunjunginya kecuali untuk tugas kuliah, paper, skripsi, dan makalah ilmiah lainnya. Ia belum mampu menjadi bintang utama dalam kehidupan manusia seperti Mall, atau pusat perbelanjaan lainnya. Ia pun belum menjadi kebanggaan masyarakat sehingga semua lapisan mereka dari berbagai usia dan status sosial bisa hadir dan berkarib dengannya. Semuanya berawal dari kegamanganku mencari tempat bekerja yang dengan itu kokohlah aku sebagai seorang sarjana, atau legitimasi untuk keluargaku bahwa sarjana akan selalu dicari dan menempati strata kaum istimewa dari yang lainnya.

Episode istimewa ini menjadi teramat istimewa karena aku mendapatkan kepercayaan dari almamaterku untuk mengelolanya untuk pertama kali. Warna pelangi dunia perpustakaan pun kureguk dan kunikmati.

Warna kebingungan, itulah yang pertama kali kutemui. Membisikkan keragu-raguan mampukah aku menegakkan bangunan yang telah dirintis sejak lama ini namun tak pernah hadir ketika ”teman para mahasiswa” membutuhkannya. Berbekal semangat dan tekad untuk memberikan kerja terbaikku dan berjuang sejauh kemampuanku, akhirnya aku mulai melangkah. Almamaterku sendiri memang baru merintis berbagai fasilitas kampusnya. Jadi, ku pikir semuanya harus dimulai dengan keyakinan bahwa kita mampu melaksanakannya dan mewujudkannya.

Meniti lereng bukit harapan...

Pagi yang cerah, kumulai memeriksa sahabat-sahabatku yang telah berdebu, sebagian bahkan warnanya menjadi kecoklatan dan berbau apek, terlalu lama tak tersentuh. Kuamati subjek-subjeknya yang tak beraturan memenuhi rak-raknya. Jumlah para sahabatku ini ternyata lumayan banyak juga namun ia seolah tak pernah terlihat oleh kami para mahasisiwa, kenapa ya? Oh! mungkin karena tampilannya yang telah kusut, berbau, bahkan dekil membuatnya tak pernah berarti sehingga tak disadari kehadirannya. Kusentuh dengan penuh cinta para sahabatku ini. Akan kupastikan mereka menjadi rapi, bersih, dan cantik dengan berbagai cover wajahnya yang beragam.

Yang pertama kali akan kulakukan adalah menyusun langkah kerja merunuti pekerjaan sebagai saorang pustakawan, dan di sinilah kesalahan pertama aku lakukan. Dengan semangat ”pejuang ‘45” aku mulai menyampul dan menempel kode buku pada punggung buku-buku tersebut dengan kode 100% aku karang dengan logika dan instingku saja. Aku terus bekerja seperti seorang alim yang tahu persis dan mengusai bidang pekerjaan tersebut padahal kenyataannya aku telah tersesat sejauh-jauhnya. Salah satu teman terbaikku menyarankan aku untuk belajar langsung pada seorang pustakawan untuk memastikan kalau pekerjaanku adalah benar dan telah sesuai dengan ilmunya. Praktis, setelah pekerjaanku mencapai setengahnya bahkan lebih dan aku baru ngeh, kalau aku bukan seorang pustakawan! Benarkah yang telah kukerjakan ini? Jika salah, bukankah aku telah menjadi makhluk paling jahil yang tersesat? Akhirnya aku dengan bantuan temanku mengunjungi salah satu kenalannya, seorang pustakawan lulusan UI yang kini bekerja di salah satu PT swasta di daerah Ciputat.

Dari Jakarta Selatan aku menabur harapan dan do’a di sepanjang jalan berharap ada ilmu baru yang bisa kuambil dan kuaplikasikan untuk perpustakaan. Aku berdecak kagum dan beberapa kali menggelengkan kepala setelah tahu pekerjaan mengarangku mendapat nilai 100 atas kesalahannya karena kebodohan dan kecerobohannya, ini menjadi pengalaman paling konyol dan bodoh sepanjang hidupku. Karena itu berarti aku harus mengulang pekerjaanku, semuanya dari awal, sungguh menakjubkan!!

Aku semakin terpaku begitu mengetahui dunia perpustakaan, hal-hal yang harus dikerjakan seorang Pustakawan. Dari mulai pemesanan buku, caranya, kemudian memilih buku-buku yang paling diminati dan dibutuhkan pengunjung perpustakaan, bagaimana mendapatkan buku-buku di luar spesialisasi lembaga di mana perpustakaan tersebut berada, atau sampai coding buku, klasifikasi, katalogisasi, yang ternyata banyak sistem yang di gunakan. Dewey Decimal Clasification, DDC adalah metode klasifikasi yang paling banyak di gunakan, akhirnya kupelajari metode klasifikasi ini. Beberapa kali kali aku mengunjungi berbagai perpustakaan di Jakarta, dari mulai perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah, Iman Jama’, sampai perpustakaan Pemda Daerah Jakarta di Setia Budi. Tentu tak terlupa Perpustakaan Nasional di Salemba. Meski aku tahu begitu banyak perpustakaan di Jakarta namun aku harus bisa “memilih dan memilah” mana yang paling cocok untuk bisa kuterapkan di Perpustakaan almamaterku. Lelah, panas, bahkan peluh mengalir deras tak kurasakan, semakin takjub bahwa proyek pekerjaanku saat ini tak mudah.

”Pedoman Penyelanggaran Perpustakaan” penerbit Djambatan dengan cover sampul tempo dulu adalah buku pertama yang aku baca, dengan keadaan buku yang cukup miris karena hampir sobek dan lembar-lembar usang yang telah di makan usia. Meski demikian kubaca dengan seksama karena aku tahu ini adalah buku warisan dari generasi dulu yang wajib dibaca oleh setiap mereka yang ingin jadi pustakawan.

Aku pun mulai mengolah seluruh isi perpustakaan dengan langkah yang lengkap sesuai Ilmu Perpustakaan yang kudapatkan secara otodidak dan penuh keluguan di hadapan sang “disiplin ilmu” yang telah mendunia ini. Tapi semuanya terasa indah sekali...

Mendaki terjalnya bukit ...

Pelbagai masalah mulai muncul, ruangan perpustakaan yang terlalu kecil, kebersihan dan kedisiplinan mahasisiwa untuk tidak berkumpul dan bercerita di perpustakaan dan menjadikan perpustakaan area bersantai, bercanda, dan berkumpul membuatku kesulitan melaksanakan pekerjaan dengan tenang dan fokus. Belum lagi permasalahan tumpukan pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan. Rekan kerja di perpustakaan yang kurang optimal karena ia hanya bersifat membantu, dengan sallary yang kecil membuatnya enggan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Bayangkan dari mulai proses pemasukan data buku ke buku besar, klasifikasi, katalog, input buku ke komputer, penyampulan, serat pemilihan dan pemesanan buku baru semuanya dengan perjuangan berat dan begitu lelah. Bergumul dengan buku dari pagi sampai jam 5 sore, menjadi kerja keras tak terlupakan kemanisannya.

Di Puncak bukit ...

Akhirnya, sebagian besar buku telah kuproses, berita gembira mendatangiku, ada dana untuk membeli buku baru yang dari jumlahnya cukup besar. Inilah episode paling menarik dari kisah perjalanan hari-hariku di perpustakaan. Dengan itu aku jadi banyak tahu tentang buku-buku bagus yang kukumpulkan dari katalog-katalog penerbit, memilih dan memesan kemudian dengan tanganku sendiri buku-buku itu aku ambil dan kuletakkan sahabat-sahabat baruku ini di rak yang masih kosong berharap ada yang memasuki dan mengisinya. Meski seharian bahkan aku pulang sampai jam 9 malam, namun rasa puas melihat makhluk-makhluk baru yang sangat dinantikan kehadirannya oleh citvitas akademika almamaterku ini menghilangkan segalanya tergantikan oleh rasa bahagia tak bertepi dan tak terkatakan.

Perpustakaan kini sudah mulai menjelma menjadi sosok menarik yang mulai dilirik dan mulai mendapat perhatian para mahasisiwa. Kini, meski ia masih kecil dan masih terlalu sederhana namun ia telah menjadi sebuah ruang ajaib yang tenang, sejuk, dan yang terpenting ia telah menjadi simbol bangkitnya kebudayaan pengetahuan berbasis ilmiah di sudut kecil sebuah kota di bumi bagian Tenggara Asia ini.

Perjalanan pulang ...

Rupanya setahun sudah aku di sana. Perpustakaan. Aku mendapat panggilan mengajar di pulau Sumatera, meski telah ada kecintaan tersendiri pada dunia ini namun aku harus rela melepas dan meninggalkannya..

Kini ia menjadi saksi atas tumbuhnya semangat intelektualitas baru yang mulai hadir, menyeruak di dada para pemuda bangsa. Ia menanti estafeta perjuangan berikutnya yang memimpikan sentuhan kerja yang lebih keras, kreatif, dan inofatif dari insan bertanggung jawab dan memiliki kecintaan sepenuhnya bagi peradaban ilmu. Perjuangan di sana tak akan pernah usai.

Satu pelajaran amat berharga, bahwa benar pepatah yang mengatakan : ”buku ibarat subuah taman yang bisa kau bawa kemana-mana” di dalamnya kau bisa mendapatkan ketenangan, keteduhan, dan kesejukan. Bahwa buku adalah jendela dunia, bahwa buku akan selalu menjadi istimewa bagi mereka yang menginginkan perubahan dan perbaikan hidup lewat ilmu. Manusia tanpa ilmu adalah makhluk bodoh yang hanya akan merusak bumi dan ini tentu menjadi paradoks dari hakikat penciptaannya sebagai pemimpin di alam ini.

******

Penulis : Supi Amaliah / arrum_man@yahoo.com / 0857 6243 7584

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar