Rabu, 20 Januari 2010

PERPUSTAKAAN DESA, PARADIGMA BARU MEMBAGUN DESA

Lombok Post, 21 Januari 2010

Bupati Lombok barat (Lobar), H. Zaini Arony mengemukakan, berbicara masalah perpustakaan, tentu tak lepas dari persoalan koleksi buku, bahkan perpustakaan merupakan paradigma baru dalam upaya membangun desa. memang, pada setiap sambutan formilnya, bupati zaini selalu mengungkapkan bahwa, daerah Lobar pendekatan pembangunannya memang diawali dari desa. karenannya, menyangkut angaran desa, pihaknya tidak banyak memberikan komentar, tetapi selalu disetujui. hal tersebut dikemukakan ketika digelarnya louncing 88 perpustakaan desa se LObar di desa kediri beberapa waktu lalu.
Tahun 2010 ini, menurut Zaini, paradigma baru dalam upaya membangun desa adalah pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat tersebut, salah satunya adalah diluncurkannya perpustakaan desa bagi 88 desa di Kabupaten Lobar. Gelaran yang bertajuk "membaca cara pintar buat pintar" ini disponsori oleh Kantor Perpustakaan Daerah Lombok Barat serta dihadiri Muspika Kediri, toga, toma, pimpinan SKPD, Camat serta sejumlah Kepala Desa.
Menurut pandangan Zaini, perpustakaan dan koleksi buku sebenarnya memiliki empat fungsi. Fungsi tersebut meliputi fungsi edukasi, transformasi, sosialisasi dan fungsi informasi. Empat fungsi inilah yang diperankan oleg guru, tokog, instruktur selama kegiatan pembelajaran tatap muka dilaksanakan. Jika ada tatap muka, kata Dia, ilmu yang dimiliki oleh pelaku peran tadi, akan bisa disampaikan kepada audiens atau masyarakat umum. Fungsi edukasi pada perpustakan atau buku itu sangat penting yaitu fungsi pendidikannya.
Didalam fungsi edukasi ini juga, ada terkait dengan fungsi pembelajaran yakni berbagai macam ilmu pengetahuan yang diperoleh. Bahkan pelajaran yang didapati oleh agama islam, yakni suatu perintah 'membaca'.
Tetapi ada rasa pesimis dalam dirinya, karena menurut data yang dimiliki dan dipelajari bahwa, tingkat budaya baca masyarakat Lobar masih sangatlah rendah. "jadi, transisi dari budaya tutur ke budaya baca, ke budaya tulis, itu masih sangat jauh," lanjutnya.
Bahkan budaya tersebut dibuktikannya ketika masih dalam lingkup Dikpora. Suatu ketika, pernah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah perpustakaan SMA. Di sebuah kabupaten di NTB ini, rasa minat baca disekolah tersebut sekitar 20-23 persen dari jumlah siswa. Dan hanya 17 persen saja yang membaca atau meminjam buku di perpustakan dari jumlah guru yang ada. Kondisi ini ditemukan pada saat Zaini menjabat Kepala Dikpora NTB "saya tidak tahu di Pondok Pesantren, kondisi ini apakah m,eningkat atau turun," singgungnya di hadapan TGH. Sofwan Hakim.
Ironisnya lagi, dari seluruh koleksi buku perpustakaan, yang rata-rata paling senang dibaca adalah bacaan fiksi. Buku-buku non fiksi justru kurang diminati. Menurut Zaini ini merupakan suatu kenyataan. Padahal umat Islam memiliki ajaran perintah 'membaca. Dari sisi pengertian umum, membaca merupakan sebuah alam semesta. Sehingga budaya membaca dan tulis menulis masih kurang, apalagi perubahan dari program lama yaitu Sarjana muda ke Sarjana (S1), tidak selalu ditekankan bagaimana merealisasi budaya tulis menulis, maka masyarakat bertambah malas.
Melihat hal ini, disarankan kepada seluruh kepala desa (Kades) serta Kepala Perpustakaan Lobar selaku penanggung jawab perpustakaan desa supaya perlu sekali waktu mengadakan semacam lomba resensi buku 'coba dikembangkan lomba resensi atau resume sebuah buku' harapnya. Alasannya, supaya jangan taman bacaan masyarakat atau perpustakaan yang di launcing saat ini akan menjadi tempat penumpukan buku (TMB). Sebab jika banyak buku lalu kemudian tidak dibaca, ini suatu kerugian besar. JKadi idealnya, fungsi pertama (edukasi) dan fungsi transformasi atau suatu perubahan harus dilaksanakan. 'Jika fungsi edukasi tidak dilakukan maka fungsi transformasi atau perubahan tidak akan terjadi,' katanya.
Fungsi berikut dari perpustakaan adalah, sosialisasi. Ini merupakan penyampaian pesan untuk suatu masalah kebudayaan. Jika pada fungsi transformasi atau perubahan, maka pada saat membaca, maka dalam perilaku dan pengetahuanterjadi suatu perubahan.
Dalam fungsi sosialisasi, menurut Zaini, merupakan suatu sikap. 'Kalau kita sudah bisa hidup bersih, ini akan menjadi sebuah sikap,' katanya sembari menyinggung apa yang dikemukakan Kepala Kantor Perpustakaan Daerah LObar, H. Baihaqi, SP,i;M.Pd;MM bahwa, merupakan suatu yang luar biasa jika budaya membaca menjadi kebutuhan. 'Sebagaimana halnya kita butuh makan dan minum,' ungkapnya sembari berharap, minimal membaca bahan bacaan apa saja, yang penting berguna. Karena pada tahap ketiga inilah, budaya baca itu bisa dihidupkan. 'Jangan sampai kita louncing perpustakaan desa dengan tema, membaca cara pintar buat pintar namun tidak pintar-pintar juga,' kritiknya.
Fungsi berikutnya adalah informasi. Fungsi informasi pada bahan bacaan atau perpustakaan merupakan suatu informasi. Dengan keempat fungsi tersebut, Zaini memohon kepada seluruh Kades se Lobar pada tahun 2010 ini, dimungkinkan dana desa bisa digunakan untuk membeli dfan menambah koleksi buku. Karena anggaran dana desa (ADD) telah dinaikkan, maka untuk pembelian koleksi buku diperbolehkan disisihkan untuk itu. Alasannya, karena tidak mungkin secara serentak, Pemda melalui Kantor Perpustakaan Lobar akan memberikan koleksi buku secara serentak.
Tapi jangn beli buku yang tidak berguna. pinta Zaini. Melainkan diharapkan membeli buku yang praktis dan pragmatis, semisal bagaimana berternak ayam guras, menternak ikan lele. Dalam buku ini ilmu yang praktis dapat diterapkan dan juga insan sifatnya. Selain itu juga supaya membeli buku-buku praktis menyangkut dunia kesehatan masyarakat.
Ini penting dalam mengisi perpustakaan supaya tidak kering, sembari meminta kepada Kakan supaya tidak mengirim buku-buku yang terlalu ilmiah. Tapi yang diinginkan dalam level yang lebih praktis.
Lebih lanjut diungkapkan Zaini, perpustakaan merupakan hal yang strategis untuk dikembangkan dalam rangka membangun ilmu pengetahuan masyarakat desa. Karena dianggap suatu hal yang penting, dengan begitu, Zaini meminta kehadiran semua pihak.
Jangan hari ini kita meloncing, tapi besok lusa tak ada maknanya, sebutnya usai mengabsen kehadiran Camat satu persatu (L. Pangkat Ali-PH Pranata Lobar).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar