Senin, 18 Januari 2010

Description

Ketika sebuah institusi [pendidikan] berubah, perpustakaan juga harus berubah untuk mendukung program-program pendidikan yang ada. Banyak pepustakaan mulai menyadari pentingnya memperluas koleksi mereka selain bahan-bahan tercetak. Beberapa perpustaaan mulai menggabungkan berbagai bentuk media kedalam koleksi dan program-progam mereka, termasuk journal, serial, audi visual, video tape, microform, transparansi, film-film [dalam beragam format], termasuk modul-modul pembelajaran dan pengajaran berbasis komputer. Banyak lembaga pendidikan tinggi membangun perpustakaan sebagai faktor utama (pusat belajar) dalam proses pendidikan, karenanya sering disebut sebagai jantung perguruan tinggi. Sehingga, pola pelayanan perpustakaan seperti ini menjadi lebih berorientasi kepada mahasiswa daripada melayani para dosen dan peneliti.
Namun demikian, perubahan paradigma perpustakaan tersebut tidak mesti dibarengi oleh perubahan institusi organisasi. Perpustakaan yang sehat akan terus meningkatkan sumberdaya yang dimiliki secara komprehensif dan berkualitas. Mereka akan terus berusaha meningkatkan sumber dana, pengadaan koleksi dan SDM yang dimiliki. Faktanya, perpustakaan universitas jelas merupakan perpustakaan yang paling komperehensif dibanding perpustakaan akademik, institut atau sekolah tinggi. Diantara mereka (ada yang berkembang) membangun diri sebagai pusat sumber belajar, sementara yang lain tetap mengelola diri secara tradisional (menyajikan sumber informasi tercetak, buku sebagai koleksi primadona). Bagaimanapun, perubahan perpustakaan menuntut pembinaan manajemen yang lebih efektif dan efieien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar