Senin, 21 Desember 2009

PERANAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA MAHASISWA

Pendahuluan
Dalam al-quran juga dianjurkan ketika pertama kali yang harus dilakukan saat menuntut ilmu adalah dengan membaca atau iqra’, maksudnya bahwa membaca merupakan sumbernya ilmu pengetahuan, baik wawasan / pengetahuan ketika hidup maupun di akhirat. Dalam membaca terkandung dua hal yang sangat penting yaitu kemampuan dan perilaku. Maksudnya bahwa kegiatan membaca merupakan kombinasi pemahaman cara membaca dan keinginan untuk melakukannya. Membaca juga merupakan suatu proses, artinya dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan atau kebutuhan seseorang.
Seperti pendapat Mendikbud, Prof. Dr. Fuad Hasan pada acara Kegiatan Temu Karya Nasional Tahun 2000 di Jakarta, tanggal 29-31 Maret 2000, beliau menyampaikan makalahnya tentang "Perpustakaan Sebagai Agen Pencerdasan Masyarakat". Dalam masyarakat kampus dengan kehadiran perpustakaan adalah hal yang mutlak, dan diharapkan bahwa perpustakaan dapat menyediakan buku-buku yang bersifat do it your self dengan tujuan akhir supaya pembaca / mahasiswa memperbaiki kebiasaan belajarnya yang berangsur-angsur lebih efektif dan efisien. Kehadiran perpustakaan di berbagai perguruan tinggi mempunyai manfaat ganda, yaitu memungkinkan peningkatan / menambah sumber informasi dan pengeatahuan.masyarakatnya.
Bangsa yang maju harus mempunyai masyarakat yang terus belajar dan membaca. Masyarakat yang berkebiasaan belajar dan membaca akan mengangkat harkat dan martabat bangsa agar mampu bersaing di era globalisasi ini. Namun budaya baca masih menghadapi tantangan yang besar terutama belum membudayanya kebiasaan membaca buku yang bermutu. Budaya baca yang masih lemah dapat berakibat budaya belajar generasi muda kita, khususnya para mahasiswa dan kualitas sumber daya manusianya menjadi lemah.
Ketika berbicara tentang perpustakaan, tentu tidak akan lepas dari isinya, yakni buku (pada umumnya). Secara fungsional, buku merupakan alat komunikasi tulisan yang dirakit dalam satu-satuan atau lebih agar pemaparannya sistematis, sehingga isi dan perangkatnya bisa tetap dilestarikan, yakni dengan dibaca. Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan di kalangan mahasiswa selama selama masih belajar di perguruan tinggi. Membaca di sini tidak mesti harus membaca buku belaka, tetapi juga membaca majalah, koran, tabloid, jurnal hasil penelitian, makalah, atau bacaan yang lainnya. Dari membaca kita jadi mengetahui mana hal-hal yang bersifat positif dan negatif.
Membangun generasi masa depan yang cerdas dan berwawasan luas melalui budaya minat baca sejak dini. Kita memang prihatin dengan minat baca mahasiswa yang rendah, karena metode belajar yang kurang / tidak memberi kesempatan bertumbuhnya minat baca sebagai proses belajar. Masalahnya para mahasiswa belum mempunyai metode belajar yang mantap, yang menempatkan buku dan perpustakaan tidak hanya sebagai pelengkap penyerta melainkan sebagai sumber pengetahuan yang utama. Perpustakaan Perguruan Tinggi mempunyai peranan dan fungsi yang sangat penting untuk memotivasi para mahasiswanya agal lebih proaktif dalam aktivitas membaca, sehingga akan memperlancar proses pembelajaran di lingkungan akademis kampus dan tujuan perpustakaan akan bisa terwujud.

Motivasi Untuk Menumbuhkan Minat Baca Mahasiswa
Tampubolon (1993:4) menyatakan bahwa minat adalah perpaduan keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Untuk membangun motivasi, pertama-tama mahasiswa harus mampu mendefinisikannya. Peneliti terkenal, J.T. Guthrie (2001), menjelaskan bahwa pembaca yang sangat termotivasi adalah orang yang mampu membuat diri mereka mempunyai kesempatan menjadi literasi dan mereka mulai membuat diri mereka sebagai pembelajar literasi (literacy learners). Menurut beberapa peneliti, misalnya Guthrie, Gamberll, Wigfield, Alvermann, dan Baker, motivasi untuk membaca adalah komponen penting dalam internalisasi. Mahasiswa (murid) yang terinternalisasi adalah orang yang membaca untuk tujuan yang berbeda-beda, scaffold pengetahuan untuk membentuk suatu pembelajaran, dan berpartisipasi dalam interaksi sosial yang bermanfaat dalam kaitannya dengan membaca.
Menurut Rosidi (1983:74-78; Leonhardt, 2001:112) bahwa para pelajar kita sesungguhnya mempunyai minat yang cukup yang cukup tinggi untuk membaca. Namun, kenyataannya para mahasiswa melakukan aktivitas membaca hanya di saat-saat tertentu saja. Misalnya, membaca ketika ada perintah dari dosen atau ketika mencari sumber rujukan untuk mengerjakan tugas / makalah. Kadang juga lebih senang terhadap bacaan yang berbau pornografis atau membaca buku-buku hiburan atau cerita saja. Maka, agar mereka menyukai bahan bacaan ilmiah salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyediakan buku-buku yang berkualitas dan sesuai dengan permintaan / kebutuhan mereka dalam segala jenisnya yang sifatnya menghibur dan sekaligus mendidik. Buku supaya menarik perlu dilengkapi gambar atau ilustrasi yang bagus. Karya sastra seperti novel atau cerpen merupakan salah satu media yang tepat untuk membangkitkan minat baca. Karya sastra tersebut mengandung pesan moral untuk mengembangkan imajinasi dan menawarkan pengalaman baru bagi pembacanya.
Sebagaimana dinyatakan oleh Gambrell dan Marinak (1997:205-217) bahwa penggunaan intensif yang tepat dapat mendorong pembelajar (learner) untuk lebih terlibat dapat membaca dan dapat mendorong untuk menginternalisasi dan mengintegrasi nilai penting dari membaca. Salah satu komponen terpenting dari motivasi membaca adalah pendapat tentang self efficacy atau kemampuan seseorang untuk menilai kapabilitasnya dalam kaitannya dengan suatu pekerjaan. Jadi, seorang mahasiswa harus menanamkan kesadaran diri akan pentingnya membaca serta menjadi pembelajar seumur hidup. Ketrampilan membuat kegiatan membaca menjadi sesuatu yang mungkin dan nyata.
Dengan ketrampilan membaca buku setiap mahasiswa akan dapat memasuki dunia keilmuan yang penuh pesona, memahami khasanah kearifan yang banyak hikmat, dan mengembangkan berbagai kepandaian lainnya yang sangat berguna bagi kesuksesannya. Kegiatan membaca yang dilakukan secara terampil akan membukakan jendela pengetahuan yang luas dan keahlian yang lebar untuk menyongsong masa depan. Kegiatan membaca dapat dibedakan menjadi 3 ragam, yaitu :
1. membaca ragam hiburan, misalnya bacaan dalam bentuk novel atau majalah yang sifatnya menghibur. Tujuannya adalah untuk menikmati cerita itu dan menghargai kemampuan pengarang mengolah alur kisahnya
2. membaca ragam sepintas, kegiatannya adalag membaca secara cepat, tujuannya untuk memperoleh gambaran selayang pandang mengenai apa yang diuraikan dalam suatu bahan bacaan atau untuk menemukan suatu keterangan yang memang seajack semula dicari dalam bahan bacaan
3. membaca ragam belajar, kegiatan ini perlu dilakukan beberapa kali untuk menangkap dan memahami apa yang dibacanya.
Oleh karena itu, tidak semua mahasiswa memeliki semua bacaan yang diperlukan, maka mereka harus dipacu untuk berkunjung ke perpustakaan. Perpustakaan sebagai sumber belajar dan informasi telah terbukti mempunyai kedudukan yang sangat penting yaitu jantungnya perguruan tinggi atau universitas di negara-negara maju. Di sini perpustakaan harus berusaha ikut berperan aktif membantu mahasiswa meningkatkan ketrampilan membaca, misalnya dengan mempromosikan buku-buku atau bacaan lainnya yang terbaru dan berkualitas, serta menginformasikan layanan baru yang dapat menunjang aktivitas membaca. Jadi, perpustakaan perguruan tinggi harus giat berusaha dan berperan aktif dalam membantu mahasiswa meningkatkan ketrampilan membaca, misalnya dengan memamerkan (display) buku-buku atau bacaan terbaru di tempat khusus, menginformasikan layanan koleksi barunya, dan sebagainya.

Peran Pustakawan
Menurut Crow and Crow sebagaimana disebutkan dalam Sulistyono (1992:4), “minat merupakan kekuatan pendorong yang menyebabkan seseorang menaruh perhatian terhadap seseorang, sesuatu objek atau aktivitas tertentu”. Minat baca harus dipupuk sejak dini, dalam hal ini perpustakaan atau pustakawannya sangat berperan dalam menumbuhkembangkan minat mahasiswanya untuk membaca buku. Sebenarnya banyak cara untuk meningkatkan minat baca mahasiswa dengan berbagai macam kegiatan yang rekreatif dan mendidik antara lain :
1. membuat mading kampus
2. tersedianya tempat koran, sebagai media rekreatif setelah mahasiswa sibuk (penat) dengan mata kuliah sehari-hari sehingga media koran/surat kabar dapat dijadikan sebagai alternatif media belajar dan ilmu pengetahuan
3. mengadakan lomba sinopsis, dengan membuat sinopsis sebenarnya mahasiswa diajarkan untuk menangkan gagasan ke dalam sebuah tulisan
4. membuat jadwal kunjungan ke perpustakaan, misalnya pada hari tertentu setiap mahasiswa diwajibkan berkunjung ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Dalam hal ini pustakawan berperan aktif sebagai pustakawan referens. Jika, mahasiswa ada yang bertanya tentang referensi sebuah mata pelajaran.
5. mewajibkan semua mahasiswa, dosen, dan karyawan universitas untuk membudayakan membaca, dan membuat slogan-slogan di kelas seperti “Tiada Hari Tanpa Membaca”, “Gunakan waktu luang untuk membaca”, dan “Buku adalah jendela ilmu pengetahuan”. Dengan membuat kegiatan yang bersifat rekreatif dan edukatif diharapkan dapat membangun minat baca di kalangan mahasiswa.
Kebiasaan membaca merupakan prasyarat yang mutlak menuju masyarakat pembaca (reading society). Hal itu merupakan ciri masyarakat modern yang merupakan tuntutan kemajuan zaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pada masyarakat pembaca selalu ditandai dengan kondisi cinta bacaan, dan sayangnya indikator tersebut belum bisa tercapai. Keberadaan perpustakaan perguruan tinggi adalah salah satu fungsinya untuk meningkatkan minat baca para mahasiswanya, yakni untuk menjawab segala persoalan yang berkaitan dengan penyedian informasi, khususnya buku-buku atau bahan bacaan dari berbagai sumbernya. Sebagai contoh mahalnya bahan bacaan yang tidak terjangkau oleh daya beli mahasiswa.
Perkembangan lembaga perpustakaan saat ini sebenarnya telah menjadi “agen” pelayanan infirmasi bagi masyarakat kontemporer. Lembaga perpustakaan akan terus menyempurnakan perannya sebagai”hutan-nya” ilmu pengetahuan. Bagaimana semua bidang studi dalam pembelajarannya akan berintegrasi dengan perpustakaan sebagai unit informasi yang utama dan terkini. Oleh karena itu, sangatlah dibutuhkan pustakawan (pemimpin) yang mau dan mampu merumuskan kebijakan pendidikan dengan memberdayakan perpustakaan sebagai bagian yang integral dalam sistem pendidikan yang dilasanakan.
Di samping itu, perpustakaan mempunyai fungsi yang sangat strategis sebagai media pembinaan minat baca yang belum dipahami secara baik oleh kebanyakan mahasiswa. Perpustakaan masih diartikan sebagai gudang buku, akibatnya berimbas pada penempatan tenaga / pengelola perpustakaan yang berposisi sebagai second-class citizen pada lembaga yang bersangkutan. Padahal perpustakaan itu memerlukan SDM (pustakawan) yang berkualitas yang berkomitmen tinggi pada pendidikan umat manusia. Fungsi perpustakaan menjadi berkembang sebagai tempat pemupuk minat baca. Fungsi perpustakaan bagi masyarakat adalah untuk memperdalam dan menelusuri berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya. Penguasaan konsep dasar yang baik memudahkan masyarakat untuk mengaplikasikan ilmunya pada situasi dan kondisi yang lebih berkembang yang akhirnya masyarakat akan memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, rasional, dan objektif. Fungsi perpustakaan bagi masyarakat lainnya adalah untuk meningkatkan apresiasi seni dan sastra serta seni budaya lainnya melalui cara membaca di perpustakaan. .
Pelayanan merupakan kunci sukses dalam penyelenggaraan perpustakaan. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab profesional setiap petugas perpustakaan untuk senantiasa memiliki motivasi yang kuat, wawasan yang luas, dan senantiasa berupaya secara aktif agar dapat melaksanakan pelayanan sebaik-baiknya. Selain itu, pustakawan harus mampu memberikan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan para pemakai, di mana siswa sebagai pihak yang paling berkepentingan untuk dilayani perlu mendapatkan pelayanan yang memadai sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Permasalahannya ; Minat Baca Mahasiswa Masih Rendah
Budaya kita adalah budaya lisan. Hal tersebut dapat dilihat di lingkungan pendidikan, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Kita jarang melihat mahasiswa pada waktu luang (istirahat) membaca buku-buku kuliah dengan asyik, tidak se-asyik dengan ngobrol atau bermain game. Perpustakaan terlihat ramai dan penuh bila ada tugas dari dosen untuk mencari buku atau mungkin menjelang ujian. Informasi up to date kampus dari buletin kampus (misal : buletin perpustakaan) juga jarang diminati untuk dibaca, kalau dibacapun hanya sekilas dan isinya tidak dipahami pula. Jadi, mereka lebih suka mendengar dari teman-teman ketika mengobrol. Untuk merubah main culture (budaya lisan) dengan budaya baca, maka harus dibina dan dibiasakan secara evolusi mulai dari kesadaran individu (diri-sendiri), lingkungan keluarga, dan seterusnya.
Dalam kenyataannya, perkembangan minat baca tidak sesuai dengan perkembangan dunia informasi. Bisa dikatakan juga bahwa minat baca mahasiswa masih sangat rendah, hal ini terlihat kebanyakan mahasiswa mau membaca jika ada tugas dan diperintah sama dosennya. Mau membaca, jika diperhatikan orang lain. Hal ini berarti, kesadaran dalam diri kita belum ada untuk membaca secara utuhnya. Budaya membaca ada karena mahasiswa / masyarakat kampus mempunyai minat dan keinginan untuk membaca segala sumber informasi dan segala fasilitasnya yang memadai. Keinginan membaca dapat tumbuh dari pemahaman bahwa buku berisi sesuatu yang menarik dan bermanfaat. Tentunya ini adalah sebuah amanah dari orang tua kepada anaknya yang menjadi mahasiswa, jika mereka berniat untuk mencari ilmu hendaknya harus semangat untuk membaca, karena dari situlah kita akan menjadi luas wawasannya dan akan mempermudah dalam menyelesaikan studi di kampusnya.

Permasalahan yang sedang dihadapi oleh perpustakaan perguruan tinggi saat ini adalah kurangnya informasi yang diterima oleh mahasiswa sebagai masyarakatnya . Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya kondisi sosial masyarakat kampus yang beragam, kondisi geografis yang tidak merata, kemauan mahasiswa dalam mengakses informasi yang rendah, keterbatasan sarana prasarana perpustakaan. Dengan terjadinya globalisasi informasi akan memaksa semua komponen baik pemerintah maupun masyarakat untuk lebih memberdayaan perpustakaan dalam mengembangkan minat baca masyarakat. Upaya menumbuhkan minat baca memerlukan bahan-bahan bacaan yang menghibur, mendidik, dan memberikan manfaat yang besar bagi keilmuan mahasiswanya. Buku supaya menarik perlu dilengkapi gambar atau ilustrasi yang bagus.

Penutup
Minat baca adalah kekuatan yang mendorong untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka (mahasiswa) mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Aspek minat baca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca. Minat baca sebaiknya diperlukan kesadaran yang tinggi, ada motivasi internal yang kuat sehingga membaca itu menjadi bagian yang penting dalam kehidupannya.
Dalam hal ini dibutuhkan peran pustakawan, dengan melihat keadaan perpustakaannya yang serba kekurangan sudah tentu selalu dituntut untuk bersikap aktif, kreatif, progresif dalam menjalankan misi perpustakaan secara nasional bahkan internasional. Jikalau para mahasiswa telah tertarik untuk menggunakan jasa-jasa perpustakaan, maka pustakawan sebagai pemberi jasa harus berusaha memberikan pelayanan sebaik-baiknya dengan sikap ramah dan sopan santun agar menimbulkan kesan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat pemberi jasa yang bersifat edukatif. Kebutuhan pemakai akan bahan-bahan pustaka harus mendapat perhatian sesuai dengan keinginan pemakai sehingga menimbulkan kepercayaan bahwa perpustakaan betul-betul merupakan sumber ilmu dan sumber informasi.
Di sini perpustakaan adalah instansi yang paling berpengaruh terhadap kemajuan literature informasi. Maka perpustakaan harus bisa menyediakan berbagai sumber informasi, khususnya buku-buku yang menarik bagi pembacanya harus benar-benar diperhatikan. Dan yang perlu diingat bahwa kegiatan membaca adalah aktivitas pembelajaran untuk seumur hidup, kapanpun dan di manapun kita bisa melakukannya..!!!

Daftar Pustaka :
- Gambrell, L.B dan Marinak. 1997. Incentive and Intrinsik Motivation To Read. Newark, Delaware : International Reading Association.
- Rosidi, Ajip. 1983. Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastra. Surabaya : Bina Ilmu.
- Tampubolon. 1993. Mengembangkan Minat Dan Kebiasaan Membaca Pada Anak. Bandung : Angkasa
- Suharto. Buletin Perpustakaan UII No. 47/Agustus 2006. Yogyakarta : perpustakaan pusat UII
- Jurnal Fihris; Jurnal Ilmu Perpustakaan Dan Informasi Vol. I, No.2 (Juli-Desember, 2006. Yogyakarta : Jurusan IPI, Fak. Adab, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
- Masruri, Anis dan Zulaikha, Sri. 2006. Coursepack on School / Teacher Librarianship; Kumpulan Artikel Tentang Perpustakaan Sekolah / Guru Pustakawan. Yogyakarta : Jurusan IPI, Fak. Adab. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Budhi. 2008. Menumbuhkan Minat Bacad di Kalangan Mahasiswa. Dalam http://kangbudhi.wordpress.com/2007/10/28/, diakses pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 2008, pukul 13.50 WIB.
- Hasbi, Asngari. 2008. Minat Baca dan Perpustakaan. Dalam http://afzanuin.multiply.com/journal/item/8 , diakses pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 2008, pukul 14.00 WIB.
- Dalam http://massofa.wordpress.com/2008/01/24/peran-perpustakaan-dalam-membina-minat-baca-bag-4/, diakses pada hari Rabu, tanggal 12 Maret 2008, pukul 14.00 WIB

================GO TO SUCCESS!!!===============

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar